ACARA 1 - UJI FISIK

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Judul Praktikum
Uji Fisik

B.       Tujuan Praktikum
1.      Mahasiswa dapat mengetahui metode, prinsip pengukuran kekeruhan dengan spektrofotometer.
2.      Menentukan kekeruhan sampel limbah cair.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui definisi, prinsip, serta kegunaan pengukuran conductivity, TDS, dan salinitas pada limbah cair.
4.      Menentukan nilai conductivity, TDS, dan salinitas pada limbah cair.
5.      Mahasiswa dapat mengetahui metode, proses, dan kegunaan analisa pengukuran pH dan suhu.
6.      Menentukan pH pada sampel limbah cair.
7.      Mahasiswa dapat mengetahui metode pengukuran warna dan bau.
8.      Menentukan warna dan bau pada limbah cair.
9.      Mahasiswa dapat mengetahui metode dan manfaat analisis oksigen terlarut.
10.  Menentukan nilai oksigen terlarut pada sampel limbah cair.

C.      Manfaat Praktikum
1.      Metode dan prinsip pengukuran kekeruhan dengan spektrofotometer dapat diketahui sehingga mahasiswa dapat menggunakan spektrofotmeter untuk mengetahui nilai kekeruhan sampel limbah cair nata de coco.
2.      Kekeruhan sampel limbah cairnata de coco dapatdiketahuisetelahdiukurdenganspektrofotometer.
3.      Definisi, prinsip, serta kegunaan pengukuran conductivity, TDS, dan salinitas pada limbah cair nata de coco dapat diketahui sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan pengukuran ketiga hal tersebut dalam menganalisis limbah cair.
4.      Nilaiconductivity, TDS, dan salinitas pada limbah cairdapatdiukur dan diketahuibesarnyasehinggasampellimbahcairnata de coco dapatdianalisislebihlanjut.
5.      Metode, proses, dan kegunaan analisa pengukuran pH dan suhu dapat diketahui dan dipahami sehingga mahsiswa dapat melakukan pengukuran pH dan suhu dengan tepat dan mengaplikasikan kegunaannya untuk menganalisa sampel limbah cair nata de coco.
6.      pH pada sampel limbah cairdapatdiketahuisehinggadapatdianalisiskondisinya.
7.      Metode pengukuran warna dan bau dapat diketahui sehingga mahasiswa dapat melakukan analisis pengukuran warna dan bau pada sampel limbah cair nata de coco yang ada dengan tepat.
8.      Warna dan bau pada limbah cairdapatdiketahui dan sampellimbahcairdapatdianalisiskondisinya dari aspekfisik.
9.      Metode dan manfaat analisis oksigen terlarut dapat diketahui sehingga mahasiswa dapat melakukan analisis oksigen terlarut dengan benar dan mengerti manfaat apa yang didapat setelah melakukan pengukuran tersebut pada sampel limbah cair nata de coco.
10.  Nilai oksigen terlarut pada sampel limbah cair nata de coco dapat diketahui besarnya sehingga mahasiswa dapat menentukan analisis selanjutnya dari kondisi sampel limbah tersebut.




BAB II
DASAR TEORI

1.        Acara II. Analisa Pengukuran Kekeruhan (Spektrofotometer).
Kekeruhan adalah ukuran yang menggambarkan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelometirx turbidity unit) atau JTU (jackson turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit). Hal ini membuat perbedaan nyata dari segi estetika maupun dari segi kualitas air itu sendiri. Kekeruhan di dalam air disebabkan oleh adanya zat tersuspensi seperti lempung, lumpur, zat organik, plankton, dan zat-zat halus lainnya (Wagiman, 2014).
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikro organism lain. Bahan yang menyebabkan air menjadi keruh antara lain tanah liat, endapan (lumpur), zat organik dan bukan organik yang terbagi dalam butir-butir halus, campuran warna organik yang bisa dilarutkan, plankton, dan jasad renik (Rohmah, 2010).
Turbidimeter adalah alat yang digunakan sebagai alat uji standar untuk mengetahui tingkat kekeruhan air. Keberadaan alat ini sebenarnya sudah umum dan mudah dicari. Namun, karena harganya relatif mahal menjadikan alat ini hanya dimiliki oleh pihak – pihak tertentu. Untuk menguji apakah air yang kita punya mempunyai standar atau tidak harus pergi ke laboratorium pengujian air minum, hal ini menyebabkan kurang efektif dan efisien (Nuzula, 2013).
Kekeruhan air limbah disebabkan oleh kehadiran materi koloid yang tidak meneta. Hal ini terdiri dari partikel halus tanah liat, limbah susu, limbah, peroksida bebas terbentuk dari besi dan logam lainnya garam, industri keramik atau industri kertas dan pulp. Kekeruhan dapat menghambat penetrasi cahaya, membatasi fotosintesis oleh mikroorganisme dan dengan demikian dapat mempengaruhi oksigenasi air (Mahajan, 1985).
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut misalnya lumpur dan pasir halus, maupun bahan anorganik dan organik berupa plankton dan mikroorganisme lain (Pharino, 2007).
Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit turbiditas yang setara dengan 1 mg/liter SiO2. Peralatan yang pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas adalah Jackson Candler Turbidimeter yang dikalibrasi menggunakan silika. Kemudian, Jackson Candler Turbidimeter dijadikan sebagai alat baku bagi pengukuran kekeruhan. Satu unit turbiditas Jackson Candler Turbidimeter dinyatakan dengan satuan 1 JTU. Pengukuran dengan menggunakan alat ini bersifat visual yaitu membandingkan air sampel dengan air standar. Selain dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter, kekeruhan sering diukur dengan metode Nephelometric. Pada metode ini, sumber cahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer formazin sebagai larutan standar. Satuan yang diukur dengan metode Nephelometric adalah NTU (Nephelometric Turbidity Unit) (Effendi, 2003).
Peningkatan nilai turbiditas pada perairan dangkal dan jernih sebesar 25 NTU dapat mengurangi 13%-50% produktivitas primer. Peningkatan turbiditas sebesar 5 NTU di danau dan sungai dapat mengurangi produktivitas primer berturut-turut sebesar 75% dan 3%-13%. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya pernafasan dan daya lihat organisme akuatik, serta dapat memghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Tingginya nilai kekeruhan juga dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air (Effendi, 2003).
Dalam praktikum ini kekeruhan diukur dengan menggunakan spektrofotometer.Spektrofotometer merupakan instrumen yang memungkinkan orang mengukur transmitans (atau absorbans) pada berbagai panjang gelombang.Beberapa jenis spektrofotometer adalah (Bassett, 1994):
1. Spektrofotometer Ultraviolet Unicam SP 600
2. Spektrofotometer Ultraviolet Unicam SP500 Series 2
3. Spektrofotometer Ultraviolet dan nampak Beckman DU
4. Spektrofotometer Berkas Rangkap
5. Spektrofotometer Perkin Elmer 402

2.        Acara III. Analisis Pengukuran Daya Hantar Listrik, TDS, dan Salinitas dengan Conductivitymeter.
Konduktivitas suatu zat didefinisikan sebagai kemampuan atau kekuatan untuk melakukan atau mengirimkan panas, listrik, atau suara. Dalam air dan bahan ionik atau cairan, gerakan ion dapat terjadi. Fenomena ini menghasilkan konduksi ionik arus listrik. Air murni adalah bukan konduktor listrik yang baik. Air suling biasa dalam keseimbangan dengan karbon dioksida dari udara memiliki konduktivitas sekitar 10 x 10-6 Wm-1-1 * (20 dS/m). Karena arus listrik diangkut oleh ion dalam larutan, konduktivitas meningkat sejalan dengan meningkatnya konsentrasi ion (Wagiman, 2014).
Parameter-parameter fisika yang biasa digunakan untuk menentukan kualitas air meliputi cahaya, suhu, kecerahan dan kekeruhan, warna, konduktivitas, padatan total, padatan terlarut, padatan tersuspensi, dan salinitas (Effendi, 2003).
Nilai konduktivitas atau DHL berhubungan erat dengan nilai padatan terlarut total (TDS). Hal ini ditunjukkan dalam persamaan berikut:
Nilai TDS dapat diperkirakan dengan mengalikan nilai DHL dengan bilangan 0,55-0,75. Nilai TDS biasanya lebih kecil daripada nilai DHL. Pada penentuan nilai TDS, bahan-bahan yang mudah menguap (volatile) tidak terukur karena melibatkan proses pemanasan (Effendi, 2003).
Padatan terlarut total (Total Dissolved Solid atau TDS) adalah bahan-bahan terlarut (diameter <10-6 mm) dan koloid (diameter 10-6 mm-10-3 mm) yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain, yang tidak tersaring pada kertas saring berdiameter 0,45 mikrometer. TDS biasanya disebabkan oleh bahan anorganik yang berupa ion-ion yang biasa ditemukan di perairan (Effendi, 2003).
Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan. Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (%o) (Effendi, 2003).
Salinitas merupakan faktor penting bagi penyebaran organisme perairan laut dan oksigen dapat merupakan faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air. Dalam aspek ekologi, penentuan suhu, salinitas dan oksigen terlarut seringkali dinyatakan dalam kisaran nilai harian, mingguan atau musiman dan hasilnya berbeda di setiap perairan (Patty, 2013).
Secara teoritis air laut memiliki nilai TDS yang tinggi karena mengandung banyak senyawa kimia yang mengakibatkan tingginya nilai salinitas dan daya hantar listrik. Oleh karena itu, untuk memprediksi suatu daerah terintrusi air laut dapat dilihat dari pola penyebaran hubungan nilai DHL dan TDS terhadap jarak dari garis pantai. Semakin jauh dari garis pantai secara teoritis nilai DHL dan TDS semakin kecil. Nilai DHL dan TDS dilokasi penelitian mempunyai sebaran yang bervariasi terhadap jarak (Husni, 2013).

3.        Acara IV. Analisa Pengukuran pH dan Suhu.
PH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. pH didefinisikan sebagai kologaritma aktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Larutan dengan pH kurang dari 7 disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih dari 7 disebut bersifat basa atau alkali (Wagiman, 2014).
pH meter adalah suatu piranti pengukur voltase yang dirancang untuk digunakan dengan sel-sel beresistansi tinggi. Instrumen pembacaaan langsung adalah voltmeter elektronik dengan resistansi masukan yang sangat tinggi; rangkaian itu ditata sedemikian sehingga memberikan pembacaan pengukur yang berbanding terhadap pH (Day, 2002).
Definisi suhu berkaitan dengan energi rata-rata dari suatu sistem partikel. Definisi ini adalah untuk sistem dalam kesetimbangan dan bekerja bahkan untuk sistem nano (Tritt, 2004).Suhu juga berhubungan dengan energi kinetik molekul dari bahan. Pada umumnya hubungan ini cukup rumit, sehingga tidak tepat untuk dijadikan titik awal pendefinisian suhu. Suhu dan panas adalah suatu konsep makroskopik mendasar. Untuk menggunakan suhu sebagai ukuran panas atau dingin, perlu dibuat skala suhu (Young, 2000).

4.        Acara V. Analisa Pengukuran Warna dan Bau (Indera).
Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan oleh panjang gelombang cahaya tersebut. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer (Wagiman, 2014).
Salah satu pentingnya warna adalah pada proses pembersihan sampel. Penggunaan asam / basa /perak nitrat/kolom silika adalah langkah pertama dalam prosedur pembersihan kromatografi yang dianjurkan. Kolom dikemas sesuai dengan instruksi metode tertentu. Sebelum digunakan, kolom yang dikemasdibilas menggunakan 2% diklorometana inheksana. Pelarut ditarik ke atas kemasan, botol pengumpul diatur pada tempatnya, dan sampel terkonsentrasi ditransfer ke kolom menggunakan pipet pasteur. Setelah semua pelarut dikeringkan melalui kolom, perak nitrat/silika dan lapisan asam/silika diperiks/diamati warnanya. Warna menunjukkan kejenuhan yang tidak diinginkan dari lapisan ini dan pemisahan yang tidak lengkap. Jika perak nitrat / lapisan silika menunjukkan tanda-tanda kejenuhan, ekstrak sampel terkonsentrasi harus melewati thorugh kolom tambahan perak nitrat / silika (Linskens, 1999).
Dalam mempertimbangkan pengukuran bau, penting untuk membedakan antara aroma dan bau. Aroma adalah zat yang merangsang sistem penciuman manusia sehingga bau yang dirasakan, sedangkan bau adalah atribut organoleptik jelas oleh organ penciuman pada mengendus zat volatil tertentu. Konsentrasi bau adalah parameter yang paling sering diukur dan dapat diukur secara analitis atau dengan cara sensorik. Pengukuran analitis memberikan konsentrasi fisik untuk aroma tertentu, sedangkan pengukuran konsentrasi sensorik menentukan jumlah pengenceran yang diperlukan untuk mengurangi bau konsentrasi ambang batas (threshold concentration), yang merupakan konsentrasi terendah di mana bau baik dapat dideteksi atau diakui (Nicolay, 2006).
Beberapa sumber utama bau adalah hidrogen sulfida dan senyawa organik yang dihasilkan oleh dekomposisi anaerob. Selain menyebabkan keluhan, bau mungkin merupakan tanda dari gas beracun atau menjengkelkan atau kondisi anaerob di unit yang dapat memiliki efek yang merugikan kesehatan atau dampak lingkungan. Beberapa bau di tempat pembuangan sampah, tumpukan sampah, dan unit aplikasi tanah timbul baik dari limbah diturunkan atau dari benar tertutup sampah di tempat. Bau dari sampah di tempat efektif dapat diminimalkan dengan menjaga integritas bahan penutup atas segala sesuatu tetapi wajah yang sedang aktif. Pemadatan limbah yang tepat juga membantu untuk mengontrol bau (Vanatta, 2000).

5.        Acara VI. Analisa Pengukuran Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen).
Kejenuhan oksigen atau oksigen terlarut (DO) adalah ukuran relatif dari jumlah oksigen terlarut dalam air. DO diukur dalam satuan larutan standar seperti milimeter O2 per liter (ml/L), milimeter O2 per liter (mmol/L), O2 miligram per liter (mg/L) dan mol O2 per meter kubik (mol/m3). Sumber oksigen dalam perairan dapat diperoleh dari hasil proses fotosintesis phytoplankton atau tumbuhan hijau dan proses difusi dari udara, serta hasil proses kimiawi dari reaksi-reaksi oksidasi (Wagiman, 2014).
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi, kemudian invertebrata, dan yang terkecil kebutuhan oksigennya adalah bakteri. Biota air hangat memerlukan oksigen terlarut minimal 5 ppm, sedangkan biota air dingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Konsentrasi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm. Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air, di mana jumlahnya tidak tetap tergantung dari jumlah tanamannya, dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan terbatas.Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. Pada suhu 20o C dengan tekanan 1 atm konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh adalah 9,2 ppm, sedangkan pada suhu 50o C dengan tekanan yang sama tingkat kejenuhannya hanya 5,6 ppm. Semakin tinggi suhu air semakin rendah tingkat kejenuhan (Fardiaz, 1992).



BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

1.        Alat dan Bahan
a.         Analisa Pengukuran Kekeruhan.
Alat:
1.        Spektrofotometer
2.        Tissue
3.        Gelas beaker
4.        Gelas ukur
5.        Aquadest
Bahan:
1.        Sampel limbah

b.         Analisa Pengukuran Daya Hantar Listrik, TDS, dan Salinitas dengan Conductivitymeter.
Alat:
1.      Conductivitymeter
2.      Larutan standar
3.      Aquadest
4.      Tissue
Bahan:
1.      Sampel limbah cair

c.         Analisa Pengukuran pH dan Suhu.
Alat:
1.      Termometer
2.      pH meter
3.      Gelas beaker
4.      Larutan Buffer 7, 4, 10
5.      Aquadest
6.      Tissue
Bahan:
1.      Sampel limbah cair

d.        Analisa Pengukuran Warna dan Bau (Indera).
Alat:
1.      Kertas putih
2.      Gelas beaker
Bahan:
1.      Sampel limbah

e.         Analisa Pengukuran Oksigen Terlarut.
Alat:
1.      Hand held dissolved oxygen meter
2.      Aquadest
Bahan:
1.      Sampel limbah

2.        Cara Kerja
a.       Analisa Pengukuran Kekeruhan
PROSEDUR
HASIL
a.     Blanko
1.      Sampel blanko berupa aquadest disiapkan.
 


2.      Tombol ON ditekan.
 


3.      Program Hach ditekan.
 


4.      Opsi Suspended Solids dipilih.
 


5.      Opsi zero dipilih.

b.    Sampel
1.      Tutup spektrometer dibuka danganti botol blanko dengan botol sampel 1.
 


2.      Menu “read” dipilih untuk membaca hasil kekeruhan.
 


3.      Langkah 1 dan 2 diulangi sampai 3 kali.


4.      Kuvet sampel dikeluarkan kemudian diganti dengan blanko.
 


5.      Botol sampel selanjutnya dimasukkan ke dalam spektrofotometer dan diulangi seperti langkah 2.
 


6.      Pengukuran kekeruhan dengan langkah yang sama diulangi hingga 3 kali.

Sampel blanko berupa aquadest siap untuk digunakan.


Spekrofotometer menyala dan siap digunakan.

Hach program terpilih.


Opsi utnuk pengukuran suspended solid dipilih.

Setting zero untuk kalibrasi terpilih.


Botol sampel berada di dalam spektrofotometer dan siap untuk diukur kekeruhannya.


Hasil kekeruhan untuk sampel 1diketahui.


Didapat 3 data pengukuran kekeruhan untuk sampel 1.


Kalibrasi selanjutnya telah dilakukan.


Hasil kekeruhan untuk sampel 2 diketahui.


Didapat 3 buah data pengukuran kekeruhan untuk sampel 2.

b.      Analisa Pengukuran Daya Hantar Listrik, TDS, dan Salinitas dengan Conductivitymeter
PROSEDUR
HASIL
1.    Alat conductivitymeter dihidupkan.
 


2.    Untuk mengukur TDS, tombol TDS ditekan dan dicatat nilainya.

3.    Untuk mengukur salinitas, tombol SAL ditekan dan dicatat nilainya.
 


4.    Untuk mengukur conductivity, tombol COND ditekan dan dicatat nilainya.
 


5.    Pengukuran diulangi sebanyak tiga kali.


6.    Alat dimatikan.
Conductivitymeter menyala dan siap digunakan.

Nilai TDS sampel diketahui.


Nilai salinitas sampel diketahui.



Nilai DHL atau konduktivitas sampel diketahui.



Nilai TDS, salinitas, dan DHL untuk pengulangan kedua dan ketiga diketahui.

Konduktivimeter dalam keadaan mati.

c.       Analisa Pengukuran pH dan Suhu
PROSEDUR
HASIL
a.    Menghidupkan, kalibrasi, dan menggunakan pH meter.
1.      pH meter dihidupkan dan dibiarkan beberapa menit sebelum digunakan.
 


2.      Tombol pada posisi “pH manual temp” dipilih.
 


3.      Electrode dicelupkan pada gelas beaker berisi akuadest.
 


4.      dibilas dengan aquadest beberapa kali lalu dikeringkan dengan tissue.
 


5.      Electrode pH meter dicelupkan ke dalam gelas beaker yang telah berisi sampel.
 


6.      Hasil yang keluar dicatat.
 


7.      Langkah diulangi sampai 3 kali.
 


8.      Langkah 1-6 diulangi untuk gelas berisi sampel 2.




b.   Menghidupkan, kalibrasi, dan menggunakan thermometer.
1.      Thermometer dihidupkan dan dibiarkan beberapa menit sebelum digunakan.
 

2.      Electrode thermometer dimasukkan pada posisinya.
 


3.      Electrode thermometer dicelupkan ke dalam gelas beaker yang telah berisi sampel.
 


4.      Hasil yang keluar dicatat.


pH meter menyala dan siap digunakan.



Tombol pH manual temp telah ditekan


pHmeter terkalibrasi dan siap digunakan untuk pengukuran.


Electrode bersih dan kering.




Nilai pH untuk sampel 1 terbaca pada layar pH meter.



Didapat nilai pH untuk sampel 1.


Didapat 3 data nilai pH untuk sampel 1.

Didapat 3 data nilai pH untuk sampel 2.
                                             








Thermometer telah menyala dan siap digunakan.


Electrode telah berada pada posisinya.

Electrode tercelup sampel.


Didapat hasil pengukuran suhu sampel.












d.      Analisa Pengukuran Warna dan Bau (Indera)
PROSEDUR
HASIL
1.     Sampel limbah dimasukkan dalam gelas beaker.

2.     Gelas beaker berisi sampel limbah diletakkan di atas kertas putih.


3.     Warna dan bau diamati menggunakan panca indera.
Sampel telah berada dalam gelas beaker.

Gelas beaker berada di atas kertas putih.


Warna dan bau telah diamatin dan didapat hasilnya.

e.       Analisa Pengukuran Oksigen Terlarut
PROSEDUR
HASIL
a.    Pengukuran persentase (%) kejenuhan.
1.      Elektroda dicelupkan ke dalam air kemudian nilai yang tertera pada LCD dibaca setelah nilai yang terbaca stabil.


2.      Ketika menggunakan elektroda standar OE-270AA dan stirer secara bersamaan, kedua alat dihidupkan secara bersamaan. Setiap tombol4ditekan pada stirer, stirer akan menjadi ON atau OFF. Ketika terdapat status STIR pada layar LCD, maka stirer dalam keadaan ON.


3.      Jika tombol DATA IN ditekan, maka data akan langsung tersimpan dan dapat langsung dicetak melalui printer.
 


4.      Jika tombol AUTO HOLD ditekan, maka data akan berhenti secara otomatis pada nilai tertentu setelah pembacaannya stabil.


5.      Ketika pengukuran telah selesai, elektroda dibilas hingga bersih dengan aquadest dan digosok hati-hati dengan menggunakan tissue.
b.   Selesai pengukuran matikan alat.
1.      Tombol POWER ditekan sampai conductivitymeter OFF (alat akan mati setelah beberapa saat data yang ditampilkan disimpan dalam memory DATA flashing).


2.      Elektroda dibilas dengan menggunakan aquadest kemudian dicelupkan pada aquadest atau air keran. Jika conductivitymeter tidak digunakan dalam jangka waktu 2 bulan atau lebih, membrane elektroda dikeluarkan, “inside solution” dikeluarkan, membrane dibersihkan, kemudian dikeringkan dengan oven.


Angka pada LCD telah stabil.





Stirrer menjadi ON.










Data telah tersimpan.





Pembacaan data berhenti dan data siap dicatat.





Elektroda telah bersih dan kering.





Alat menjadi mati.






Elektroda dalam keadaan bersih dan terkalibrasi.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Praktikum
1.      Tabel hasil pengukuran uji fisik
a.       Analisa Pengukuran Kekeruhan (Spektrofotometri)
Ulangan ke-
Sampel 1
Sampel 2
1
840
860
2
880
920
3
820
1000
Rata-rata
846,7
926,7

b.      Analisa Pengukuran Daya Hantar Listrik, TDS, dan Salinitas dengan Conductivitymeter
Objek
Ulangan ke-
TDS (mg/L)
Sal (%o)
Cond (us/cm)
Suhu
(oF)
Suhu
(oC)
Sampel 1
1
78,8
92
157,5
85,1

2
78,8
92
157,6
85,1

3
78,8
92
157,7
85,1

Rata-rata
78,8
92
157,6
85,1
29,5
Sampel 2
1
74,6
87
149,2
84,3

2
74,5
86
149
84,3

3
74,6
87
143
84,3

Rata-rata
74,57
96,67
147,07
84,3
29,056

c.       Analisa Pengukuran pH dan Suhu
Objek
Ulangan ke-
pH
Suhu (oC)
Sifat
Sampel 1
1
4,2
30
Asam
2
4,1
30,1
3
4,0
30
Rata-rata
4,1


Sampel 2
1
4,2
30,2
Asam
2
4,0
30,1
3
4,0
30,1
Rata-rata
4,067







d.      Analisa Pengukuran Warna dan Bau (Indera)
Sampel 1
Warna : kuning muda, keruh
Bau : asam, tidak terlalu menyengat
Sampel 2
Warna : kuning muda, keruh
Bau : asam, tidak terlalu menyengat

e.       Analisa Pengukuran Oksigen Terlarut
Objek
Ulangan ke-
DO
Suhu (oC)
Sampel 1
1
39,2
30,2
2
35,9
30,4
3
34,2
31
Rata-rata
36,43
30,53
Sampel 2
1
36,3
30,5
2
35,0
30,8
3
35,1
30,8
Rata-rata
35,47
30,7

2.      Perhitungan konversi pH
Terlampir.

B.       Pembahasan
Berdasarkan keputusan Menperindag RI No.231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I tentang prosedur impor limbah, menyatakan bahwa limbah adalah bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudha berubah dari asalnya, kecuali yang dapat dimakan oleh manusia dan hewan.Limbah dikatakan mempunyai nilai ekonomi yang negatif karena penanganan untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar, di samping juga mencemari lingkungan.Limbah dibedakan menjadi 2 berdasarkan toksisitasnya, yaitu limbah non B3 dan limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Limbah non B3 adalah limbah yang tidak memberikan dampak bagi makhluk hidup. Sementara limbah B3 adalah limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun karena sifat, konsentrasi, dan jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan hidup, dan dapat membahayakan manusia.
Pentingnya uji fisik bagi limbah adalah untuk mengidentifikasi kelayakan limbah tersebut, apakah masih dapat diolah lagi atau tidak, kemudian mengidentifikasi bahaya apa yang mungkin ditimbulkan dari limbah tersebut ditinjau dari aspek fisiknya. Dengan uji fisik kita juga dapat mengetahui penanganan apa yang tepat untuk dilakukan terhadap suatu limbah. Misalnya untuk limbah yang masih memiliki pH tinggi tentu perlakukan penanganannya akan beda dengan limbah yang pHnya rendah.
Uji fisik pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah analisa pengukuran kekeruhan dengan menggunakan spektrofotometer. Yang dimaksud dengan kekeruhan adalah ukuran yang menggambarkan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air baku dengan skala NTU (nephelometirx turbidity unit) atau JTU (jackson turbidity unit) atau FTU (formazin turbidity unit). Kekeruhan di dalam air disebabkan oleh adanya zat tersuspensi seperti lempung, lumpur, zat organik, plankton, dan zat-zat halus lainnya Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organic yang berupa plankton dan mikro organism lain. Bahan yang menyebabkan air menjadi keruh antara lain tanah liat, endapan (lumpur), zat organik dan bukan organik yang terbagi dalam butir-butir halus, campuran warna organik yang bisa dilarutkan, plankton, dan jasad renik.
Metode yang digunakan untuk melakukan pengukuran kekeruhan ada 3 macam yaitu metode Hellige Turbidimetri (unit kekeruhan silika), metode turbidimetri, dan metode spektrofotometri. Penjelasan dari ketiga metode tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Hellige Turbidimetri
Prinsip spektroskopi absorbsi dapat digunakan pada turbidimeter dan nefelometer. Untuk turbidimeter, absorbsi akibat partikel yang tersuspensi diukur, sedangkan pada nefelometer, hamburan cahaya oleh suspensilah yang diukur. Meskipun presisi metode ini tidak tinggi tetapi mempunyai kegunaan praktis, sedangkan akurasi pengukuran tergantung pada ukuran dan bentuk partikel.
Setiap instrumen spektroskopi absorbsi dapat digunakan untuk turbidimeter, sedangkan nefelometer kurang sering digunakan pada analisis anorganik. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, absorbsi bervariasi secara Tinier terhadap konsentrasi, sedangkan pada konsentrasi lebih rendah untuk sistem koloid Te dan SnCl2, tembaga ferosianida dan sulfida-sulfida logam berat tidak demikian halnya.
Kelarutan zat tersuspensi seharusnya kecil. Suatu gelatin pelindung koloid biasanya digunakan untuk membentuk suatu dispersi koloid yang seragam dan stabil.
2.      Spektrofotometri
Merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan  sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda.
3.      Turbidimetri
Merupakan analisis kuantitatif yang didasarkan pada pengukuran kekeruhan atau turbidan dari suatu larutan akibat adanya suspensi partikel padat dalam larutan. Artinya turbidimetri adalah analisa yang berdasarkan hamburan cahaya. Hamburan cahaya terjadi akibat adanya partikel yang terdapat dalam larutan. Partikel ini menghamburkan cahaya ke segala arah yang mengenainya. Turbidimetri adalah pengukuran spesies hamburan cahaya dalam larutan dengan memanfaatkan intensitas cahaya berkas masuk setelah dilewatkan melalui larutan.Dalam turbidimetri digunakan larutan yang berupa koloid atau tersuspensi. Larutan jernih juga dapat diukur dengan metoda ini dengan jalan memberikan emulgator untuk mengemulsi larutan.
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutandi dalam kuvet. Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian diserap dalam medium itu, dan sisanya diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel. Adapun cara kerja dari spektrofotometer adalah sebagai berikut. Sinar berasal dari dua lampu yang berbeda, yaitu lampu wolfram untuk sinar Visible (sinar tampak = 38 – 780nm) dan lampu deuterium untuk sinar Ultra Violet (180-380nm) pada video lampu yang besar. Pilih panjang gelombang yang diinginkan/diperlukan. Kuvet, ada dua karena alat yang dipakai tipe double beam, disanalah kita menyimpan sample dan yang satu lagi untuk blanko. Detektor atau pembaca cahaya yang diteruskan oleh sampel, disini terjadi pengubahan data sinar menjadi angka yang akan ditampilkan pada reader. Yang harus dihindari adanya cahaya yang masuk ke dalam alat, biasanya pada saat menutup tenpat kuvet, karena bila ada cahaya lain otomatis jumlah cahaya yang diukur menjadi bertambah.
Dalam praktikum ini digunakan sampel limbah cair berupa limbah tahu sebanyak 100 ml yang kemudian diencerkan menggunakan air dengan perbandingan 10 ml limbah dan 90 ml aquadest, atau diencerkan sebesar 10%. Sampel dibuat sebanyak 2 buah (gelas beaker 1 dan gelas beaker 2) sehingga total sampel limbah yang dipakai adalah 200 ml. Pengukukuran diulangi sebanyak 3 kali untuk masing-masing wadah sampel. Pengukuran dengan spektrofotometer untuk sampel 1 menunjukkan angka 84, 88, dan 82, sehingga rata-ratanya adalah 84,67 NTU. Pengukuran untuk sampel 2 menunjukkan angka 86, 92, dan 100, sehingga rata-ratanya adalah 92,67 NTU. Namun karena objek sampel yang sebenarnya ingin diukur adalah sampel sebelum pengenceran sedangkan yang diukur adalah sampel yang sudah mengalami pengenceran 10%, maka hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh spektrofotometer tersebut harus dikalikan kembali dengan 10. Sehingga hasil akhir pengukuran kekeruhan untuk sampel 1 adalah 846,7 NTU dan untuk sampel 2 sebesar 926,7 NTU. Dari hasil pengukuran ini dapat dikatakan bahwa sampel 2 lebih keruh dari sampel 1 karena rata-rata nilai kekeruhan sampel 2 lebih besar dari nilai kekeruhan sampel 1.
Dalam Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Baku Mutu Air Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tercantum bahwa batas kekeruhan air untuk golongan I (air untuk minum) adalah sebesar 5 NTU, sedangkan untuk golongan II, III, dan IV tidak tercantum berapa ambang batas kekeruhannya. Hasil kekeruhan pada sampel limbah 1 adalah 846,7 NTU dan pada sampel limbah 2 adalah 926,7 NTU. Angka ini jauh berbeda dengan batas kekeruhan yang ditetapkan pemerintah untuk untuk air minum yaitu 5 NTU. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa sampel yang diambil berupa limbah cair dari produksi tahu sangatlah tidak layak diperuntukkan sebagai konsumsi air minum. Nilai kekeruhan yang tinggi ini menunjukkan bahwa banyak total suspended solid atau TSS yang terkandung dalam sampel limbah tersebut. Komponen TSS yang terkandung dalam limbah tahu ini belum diketahui terdiri dari zat apa saja, namun sudah bisa diprediksi bahwa TSS dalam sampel tersebut membuat cairan ini menjadi tidak layak untuk dikonsumsi.
Dampak ketika nilai kekeruhan sampel ataupun suatu cairan lain melebihi ambang batas yang telah ditentukan adalah cairan tersebut tidak dapat atau tidak layak dijadikan air minum sehingga harus dialihfungsikan atau bahkan dibuang (tergantung hasil uji fisik lainnya). Selain itu, jika cairan terlalu keruh maka sinar matahari tidak dapat menembus sampai ke dalam sehingga air tersebut tidak mendukunguntuk dijadikan tempat tinggal makhluk hidup. Penanggulangan untuk hal ini adalah dengan melakukan filtrasi agar padatan yang terkandung di dalamnya bisa dikurangi dan dengan sendirinya kekeruhan pun akan berkurang.
Uji fisik kedua yang dilakukan adalah analisa pengukuran daya hantar listrik, TDS, dan salinitas dengan menggunakan conductivitymeter. Yang dimaksud dengan daya hantar listrik atau konduktivitas adalah kemampuan atau kekuatan suatu zat untuk melakukan atau mengirimkan panas, listrik, atau suara. Dalam air dan bahan ionik atau cairan, gerakan ion dapat terjadi. Fenomena ini menghasilkan konduksi ionik arus listrik. Satuan dari konduktivitas adalah  ms/cm (mikro-siemens per centimeter). Yang dimaskud dengan padatan terlarut total (Total Dissolved Solid atau TDS) adalah bahan-bahan terlarut (diameter <10-6 mm) dan koloid (diameter 10-6 mm-10-3 mm) yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain, yang tidak tersaring pada kertas saring berdiameter 0,45 mikrometer. TDS biasanya disebabkan oleh bahan anorganik yang berupa ion-ion yang biasa ditemukan di perairan. Satuan TDS yang umumnya digunakan adalah mg/L. Sedangkan yang dimaksud dengan salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan. Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (%o).
Dalam uji ini, alat ukur yang digunakan adalah konduktivitimeter. Konduktivitimeteradalah alat yang dapat digunakan untuk analisis kimia konduktimeter. Konduktimeter adalah metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik berdasarkan larutan. Prinsip kerja alat ini berkitan dengan daya hantar listrik dari suatu larutan yang berhubungan dengan jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Bagian-bagiannya adalah sumber listrik yang didasarkan pada arus AC.
Hasil pembacaan alat konduktivitimeter untuk daya hantar listrik atau konduktivitas (3 kali pengulangan berturut-turut) untuk sampel 1 adalah 15,75ms/cm, 15,76 ms/cm, dan 15,77ms/cm sehingga menghasilkan nilai rata-rata 15,76 ms/cm.Untuk sampel 2, hasil pembacaan konduktivitimeter adalah 14,92 ms/cm, 14,9 ms/cm, dan 14,3 ms/cm. Sama seperti analisa kekeruhan, angka hasil pembacaan ini harus dikalikan dengan 10 karena sampel yang diukur adalah limbah yang telah mengalami pengenceran sebesar 10%. Hasil pengukuran yang sebenarnya menjadi 157,6 ms/cm untuk sampel 1 dan 147,07 ms/cm untuk sampel 2.
Hasil pembacaan alat konduktivitimeter untuk TDS (3 kali pengulangan berturut-turut) untuk sampel 1 adalah 7,88 mg/L, 7,88 mg/L, dan 7,88 mg/L sehingga rata-ratanya adalah 7,88 mg/L. Untuk sampel 2, hasilnya adalah 7,46 mg/L, 7,45 mg/L, dan 7,46 mg/L sehingga rata-rata TDS untuk sampel 2 adalah 7,457 mg/L. Seperti uji sebelumnya, hasil ini dikalikan dengan 10 karena sampel yang diukur adalah hasil pengenceran 10% sehingga nilai TDS untuk sampel 1 menjadi 78,8 mg/L dan untuk sampel 2 adalah 74,57 mg/L. Hal ini berarti bahwa dalam sampel 1 terkandung sebanyak 78,8 mg padatan terlarut dalam 1 liter cairan limbah tahu, dan dalam sampel 2 terkandung sebanyak 74,57 mg padatan terlarut dalam 1 liter cairan limbah tahu.
Untuk pengukuran salinitas, hasil pembacaan konduktivitimeter dengan 3 kali pengulangan berturut-turut menunjukkan hasil sebagai berikut. Untuk sampel 1 adalah 9,2 %o, 9,2 %o, dan 9,2 %o sehingga rata-ratanya adalah 9,2 %o. Untuk sampel 2 hasilnya adalah 8,7 %o, 8,6 %o, dan 8,7 %o, sehingga rata-ratanya menjadi 8,667 %o. Hasil ini dikalikan 10 seperti uji-uji sebelumnya karena sampel yang diukur mengalami pengenceran 10% sehingga hasil pengukuran salinitas untuk sampel 1 adalah 92 %o dan untuk sampel 2 adalah 86,67 %o. Hal menunjukkan bahwa dalam 1000 mL atau 1 liter cairan sampel limbah terdapat 92 ml ion garam (untuk sampel 1) dan 86,67 ml ion garam (untuk sampel 2).
Pada alat konduktivitimeter juga terdapat pembacaan nilai suhu dari sampel limbah dalam satuan oF. Untuk sampel 1, hasil pengukuran suhu adalah 85,1 oF, 85,1 oF, dan 85,1 oF sehingga rata-ratanya adalah 85,1 oF. Untuk sampel 2, hasil pengukuran suhu adalah 84,3 oF, 84,3 oF, dan 84,3 oF sehingga rata-ratanya adalah 84,3 oF. Hasil pengukuran dalam skala Fahrenhait ini kemudian dikonversi menjadi skala Celcius menjadi 29,5 oC untuk sampel 1 dan 29,056 oC untuk sampel 2.
Peraturan ambang batas untuk DHL dan salinitas tidak diketahui, sedangkan batas untuk TDS menurut peraturan Gubernur DIY adalah 1000 mg/L untuk air golongan I, II, dan III, kemudian 2000 mg/L untuk air golongan IV. Pada praktikum ini didapat nilai TDS sebesar 78,8 mg/L untuk sampel 1 dan 74,57 untuk sampel 2 sehingga daat disimpulkan bahwa sampel ini masih layak untuk digunakan baik sebagai air minum maupun fungsi lainnya. Adapun dampak dari tingginya angka TDS ini adalah meningkatkan kekeruhan suatu zat cair, dampak lebih lanjutnya adalah menghalangi sinar cahaya matahari untuk menembus zat cair tersebut sehingga kemungkinan untuk dijadikan tempat hidup organisme menjadi sangat kecil. Tingginya angka TDS ini juga menunjukkan bahwa banyak zat-zat yang telarut di dalam suatu zat cair, padahal tidak diketahui secara persis apa saja zat yang telarut di dalamnya. Jika zat yang terlarut tersebut adalah zat yang berbahaya, maka zat cair itu menjadi tidak layak atau bahkan berbahaya untuk dikonsumsi. Penanggulangan dari tingginya TDS, DHL, dan salinitas ini adalah dengan melakukan proses segmentasi antara zat padat dengan zat cair agar TDS nya berkurang. Segmentasi zat ini juga berguna untuk menurunkan DHL yang disebabkan oleh tingginya kadar garam/salinitas dalam suatu zat cair. Adapun hubungan antara ketiga parameter fisik tersebut adalah:
1.      Semakin tinggi salinitas, DHL semakin tinggi dikarenakan garam yang terlarut dalam air merupakan konduktor yang baik. Sehingga semakin banyak kadar garam terlarut, maka konduktivitas air juga akan semakin meningkat.
2.      Semakin tinggi TDS, kemungkinan salinitas semakin tinggi karena padatan terlarut tersebut bisa saja merupakan partikel-partikel garam yang terlarut dalam air.
Uji fisik yang dilakukan selanjutnya adalah analisa pengukuran pH dan suhu.pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. pH didefinisikan sebagai kologaritma aktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Larutan dengan pH kurang dari 7 disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih dari 7 disebut bersifat basa atau alkali. Alat untuk mengukur pH disebut pH meter. Yang dimaksud dengan pH meter adalah suatu piranti pengukur voltase yang dirancang untuk digunakan dengan sel-sel beresistansi tinggi.
Definisi suhu berkaitan dengan energi rata-rata dari suatu sistem partikel. Definisi ini adalah untuk sistem dalam kesetimbangan dan bekerja bahkan untuk sistem nano. Suhu juga berhubungan dengan energi kinetik molekul dari bahan. Pada umumnya hubungan ini cukup rumit, sehingga tidak tepat untuk dijadikan titik awal pendefinisian suhu. Suhu dan panas adalah suatu konsep makroskopik mendasar. Untuk menggunakan suhu sebagai ukuran panas atau dingin, perlu dibuat skala suhu.
Faktor yang mempengaruhi pH adalah jumlah ion H+ dan OH- dalam suatu larutan. Semakin tinggi jumlah ion H+ maka semakin asam sifat larutan tersebut, dan semakin tinggi jumlah ion OH- maka semakin basa sifat larutan tersebut. Sedangkan faktor yang mempengaruhi suhu adalah energi aton penyusun benda. Semakin tinggi energi atom-atom penyusun benda, maka semakin tinggi suhu benda tersebut.
Pada praktikum ini, pengukuran pH dilakukan dengan alat pH meter, sedangkan suhu seharusnya diukur dengan termometer namun karena alat pH meter ini sudah dilengkapi dengan pengukur suhu dalam skala Celcius maka tidak diperlukan termometer tersendiri. Hasil pembacaan pH meter untuk pengukuran pH (3 kali pengulangan berturut-turut) sampel 1 adalah 4,2; 4,1; dan 4,0 sehingga rata-ratanya menjadi 4,1, sedangkan untuk sampel 2 adalah 4,2; 4,0; dan 4,0 sehingga rata-ratanya menjadi 4,067. Karena sampel yang diuji adalah sampel yang diencerkan sebesar 10% maka harus dilakukan perhitungan pH lebih lanjut untuk sampel yang tidak diencerkan. Perhitungan pH terlampir, namun hasil dari perhitungan tersebut akan dituliskan di sini yaitu 3,1 untuk sampel I dan 3,067 untuk sampel II. Baik sampel 1 maupun sampel 2, nilai rata-rata pHnya di bawah 7 sehingga dapat dikatakan bahwa kedua sampel yang diuji memiliki sifat asam. Untuk pengukuran suhu, hasil pembacaan pH meter untuk sampel 1 adalah 30 oC, 30,1 oC, dan 30 oC sehingga rata-ratanya menjadi 30,03 oC. Untuk sampel 2, hasil pengukuran suhunya adalah 30,2 oC, 30,1 oC, dan 30,1 oC sehingga menghasilkan nilai rata-rata 30,13 oC.
Peraturan ambang batas untuk baku mutu air berdasarkan peraturan Gubernur Provinsi DIY adalah sebagai berikut. Untuk aspek pH, ambang batasnya berbeda-beda untuk air golongan I, II, III, dan IV. Air golongan I (untuk air minum) dan golongan II memiliki ambang batas pH sebesar 6 – 8,5. Air golongan III nilai ambang batas pHnya adalah 6 – 9, sedangkan untuk air golongan IV nilai ambang batasnya adalah 5 – 9. pH rata-rata untuk sampel I adalah 3,1 dan untuk sampel 2 adalah 3,067 sehingga dapat dikatakan bahwa nilai pH sampel limbah tahu ini melebihi ambang batas yang sudah ditentukan, bahkan tidak memenuhi syarat untuk air golongan IV sekalipun. Dengan begitu, sampel ini tidak layak untuk dikonsumsi maupun digunakan sebagai sarana beternak ikan, pengairan, maupun rekreasi karena pHnya terlalu rendah (sifat terlalu asam). Untuk aspek suhu, nilai ambang batasnya adalah ± 3o C dari suhu saat pengukuran. Jika diasumsikan suhu ruang saat melakukan pengukuran adalah suhu kamar yaitu 28o C maka seharusnya suhu sampel tidak lebih dari 31o – 32o C. Sedangkan pada praktikum ini, dari berbagai alat yang digunakan untuk mengukur suhu, tidak ditemui suhu yang terlalu tinggi hingga melebihi 31o C sehingga dapat dikatakan bahwa  dari aspek suhu, sampel limbah ini masih dalam batas normal/layak. Dampak dari pH dan suhu yang terlalu ekstrim (terlalu rendah ataupun tinggi) adalah suatu zat cair sulit untuk dijadikan sarana kehidupan organisme, sehingga limbah yang pH dan suhunya ekstrim tidak boleh dibuangbegitu  saja ke lingkungan karena akan menyebabkan kematian organisme setempat. Selain itu, pH dan suhu ekstrim juga sulit untuk dijadikan konsumsi untuk manusia karena pH dan suhu yang terlalu ekstrim tidak dapat diterima oleh sistem pencernaan tubuh manusia. Akibat jika limbah memiliki pH dan suhu ekstrim adalah perlu dilakukan penanganan khusus untuk menetralkan pH dan suhu sehingga dalam batas aman ketika akan dibuang ke lingkungan.

Selanjutnya adalah melakukan uji fisik berupa analisa pengukuran warna dan bau. Yang dimaksud dengan warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan oleh panjang gelombang cahaya tersebut. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer. Adapun yang dimaksud dengan bauadalah atribut organoleptik yang jelas oleh organ penciuman pada saat mengendus zat volatil tertentu. Konsentrasi bau adalah parameter yang paling sering diukur dan dapat diukur secara analitis atau dengan cara sensorik. Pengukuran analitis memberikan konsentrasi fisik untuk aroma tertentu, sedangkan pengukuran konsentrasi sensorik menentukan jumlah pengenceran yang diperlukan untuk mengurangi bau konsentrasi ambang batas (threshold concentration), yang merupakan konsentrasi terendah di mana bau baik dapat dideteksi atau diakui merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau tergantung pada sensitivitas indera penciuman seseorang. Kehadiran bau-bauan yang lain menunjukkan adanya komponen-komponen lain di dalam air. Misalnya, bau seperti telur busuk menunjukkan adanya hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh permukaan zat-zat organik dalam kondisi anaerobik.
Sumber utama bau adalah hidrogen sulfida dan senyawa organik yang dihasilkan oleh dekomposisi anaerob. Selain menyebabkan keluhan, bau mungkin merupakan tanda dari gas beracun atau menjengkelkan atau kondisi anaerob di unit yang dapat memiliki efek yang merugikan kesehatan atau dampak lingkungan. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh kehadiran materi-materi dissolved, suspended, dan senyawa-senyawa koloidal yang dapat dilihat dari spektrum warna yang terjadi.
Uji fisik ini tidak dilakukan dengan alat ukur tertentu, namun hanya menggunakan alat indera berupa indera penglihatan dan penciuman. Untuk pengukuran warna, gelas sampel diletakkan di atas kertas putih polos kemudian diamati warnanya. Hasilnya adalah kedua sampel memiliki warna yang sama yaitu kuning muda dan keruh. Sifat keruh ini sesuai dengan uji fisik sebelumnya yaitu analisa kekeruhan. Untuk pengukuran bau, hasilnya untuk kedua sampel adalah sama yaitu berbau asam namun tidak terlalu menyengat.
Peraturan ambang batas untuk warna dan bau sesuai standar baku mutu air adalah sebagai berikut. Untuk warna, ambang batasnya adalah 50 TCU (air golongan I) dan 100 TCU (air golongan II). Namun pada praktikum ini tidak dilakukan pengukuran kuantitatif terhadap warna sehingga tidak dapat dibandingkan dengan nilai ambang batas yang sudah ada. Untuk bau, ambang batasnya hanya untuk air golongan I (air minum) yaitu air haruslah tidak berbau. Sedangkan pada praktikum ini, sampel yang diuji memiliki bau asam walaupun tidak menyengat, sehingga tidak memenuhi baku mutu air dari segi bau.
Dampak dari warna yang melebih ambang batas adalah menyebabkan kekeruhan bagi zat cair tersebut. Sedangkan dampak dari bau yang menyengat adalah mengganggu lingkungan sehingga jika akan dibuang diperlukan penanganan lebih dulu agar kekeruhan dan bau tidak mengontaminasi lingkungan sekitarnya. Penanggulangan yang mungkin dilakukan adalah menambahkan mikroorganisme atau zat-zat kimia untuk mengikat bau yang terkandung di dalam suatu limbah. Untuk warna, dapat dilakukan penjernihan berupa filtrasi maupun distilasi.






BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
1.      Metode pengukuran dengan spektrofotometer adalah dengan meletakkan kuvet berisi sampel limbah pada spektrofotometer dan membaca hasil pengukuran alat tersebut. Prinsip pengukurannya adalah dengan melewatkan cahaya pada botol berisi cairan sampel kemudian menghitung berapa nilai absorbans/cahaya yang terserap.
2.      Kekeruhan sampel limbah cair untuk sampel 1 adalah 846,7 NTU dan untuk sampel 2 926,7 NTU.
3.      Prinsip pengukuran DHL, TDS, dan salinitas dengan konduktivitimeter berkaitan dengan daya hantar listrik dari suatu larutan yang berhubungan dengan jenis dan konsentrasi ion di dalam larutan. Bagian-bagiannya adalah sumber listrik yang didasarkan pada arus AC.
4.      Nilai DHL untuk sampel 1 adalah 157,6 ms/cm dan sampel 2 adalah 147,07 ms/cm. Nilai TDS untuk sampel 1 adalah 78,8 mg/L dan sampel 2 74,57 mg/L. Nilai salinitas sampel 1 adalah 92%odan untuk sampel 2 adalah 86,86 %o.
5.      Proses pengukuran pH dan suhu adalah dengan mencelupkan elektroda pada pH meter ke dalam sampel, setiap pengulangan diawali dengan pembersihan dan kalibrasi pada elektroda dengan cara mencelup dan membilasnya dengan akuadest. Kegunaan analisis pH dan suhu adalah untuk menentukan perlakuan penanganan limbah sebelum dibuang ke lingkungan.
6.      pH pada sampel 1 adalah 3,1 dan sampel 2 adalah 3,067. Suhu sampel 1 adalah 30,03o C dan sampel 2 adalah 30,13o C.
7.      Metode pengukuran warna dan bau adalah dengan menggunakan alat indera penciuman dan penglihatan. Gelas berisi sampel diletakkan di atas kertas putih agar dapat diamati dengan tepat warnanya, serta dibaui menggunakan indera penciuman.
8.      Warna sampel 1 dan 2 adalah kuning keruh, bau untuk sampel 1 dan 2 adalah bau asam tapi tidak menyengat.
9.      Metode pengukuran DO adalah dengan mencelupkan elektroda pada DO-meter ke dalam gelas berisi sampel, setiap awal pengulangan pengukuran dilakukan pembilasan dengan akuadest dan dilap tissue agar bersih dan kering. Manfaat analisis DO adalah untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan limbah itu akan menjadi sarana hidup mikroorganisme baru jika dibuang sembarangan ke lingkungan.
10.  Nilai DO pada sampel 1 adalah 36,43 dan sampel 2 adalah 35,47 mg/L.

B.       Saran
Alat lebih bagus agar tidak lama dalam melakukan pengukuran.





DAFTAR PUSTAKA

Bassett, J., et.al. 1994. Vogel’s Textbook of Quantitative Inorganic Analysis Including Elementary Instrumental Analysis. Longman Group UK Limited. London.
Day, R.A., dan L. Underwood. 2002. AnalisisKimiaKuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Effendi, Hefni. 2003. TelaahKualitas Air BagiPengelolaanSumber Daya dan LingkunganPerairan. Yogyakarta: Kanisius.
Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air danUdara. Yogyakarta: Kanisius.
Husni, Ahmad danRohSantoso. 2013. Sebaran TDS, DHL, Penurunan Muka Air Tanah dan Prediksi Intrusi Air Laut Di Kota Tangerang Selatan. Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. FakultasTeknologiPertanian.InstitutPertanianBogor.
Linskens, H.F., and J.F Jackson. 1999. Analysis of Plant Waste Materials. Springer. New York.
Mahajan, S.P. 1985. Pollution Control In Process Industries. McGraw-Hill Publishing Company Limited. New Delhi.
Nicolay, Xavier. 2006. Odors In The Food Industry. Springer. New York.
Nuzula, Nike Ika dan Endarko. 2013. Perancangan dan Pembuatan Alat Ukur Kekeruhan Air Berbasis Mikrokotroler ATMega 8535. Dalam  Jurnal Sains Dan Seni Pomits. Vol 2, No. 1: 1-5.
Patty, Simon I. 2013. DistribusiSuhu, Salinitas Dan OksigenTerlarut Di PerairanKema, Sulawesi Utara. DalamJurnalIlmiahPlatax. Vol 1 No.3:148-157.
Pharino, Chanathip. 2007. Sustainable Water Quality Management Policy. Springer. New York.
Rohmah, Ainur, dkk. 2010. Pengenalan Alat Analisa Tingkat Kekeruhan Air Dengan Turbidimeter. Jurusan Kimia. FakultasSainsdanTeknologi. Universitas Islam NegeriSyarifHidayatullah. Jakarta.
Tritt, Terry M. 2004. Thermal Conductivity: Theory, Properties, and Applications. Plenum Publishers. New York. 
Vanatta, Birute. 2000. Guide for Industrial Waste Management. Diane Publishing. New York.
Wagiman. 2014. Modul Praktikum Pengendalian Limbah Industri Program Studi Strata I Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Young, Hugh D., et.al. 2000. FisikaUniversitas. Jakarta: Erlangga.

Share:

0 comments